↑ Return to ABOUT US

Print this Page

AD / ART

ksbsi.jpg

SERIKAT BURUH SEJAHTERA INDONESIA

 

Sekretariat DPP Jl. Tanah Tinggi II No.25 Senen, Jakarta Pusat

Tlp.021-42802620 Fax. 021-42802592


 

ANGGARAN DASAR

SERIKAT BURUH SEJAHTERA INDONESIA

KONGRES KE-EMPAT

 

PEMBUKAAN

 

Sesungguhnya, setiap warga negara Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Buruh adalah bagian integral dari negara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya. Bahwa prinsip kebebasan mengeluarkan pendapat, berkumpul, dan berserikat bagi setiap warga negara Indonesia, sepenuhnya dijamin Undang-Undang Dasar 1945 (pasal 28).

Dalam pembangunan Nasional, kaum buruh sebagai pelaku produksi, hak dan kewajibannya sebagai manusia dan warga negara harus selalu diperhatikan.

Kaum buruh sebagai pelaku pembangunan ekonomi bangsa berhak mendapat perlindungan hukum dan ekonomi sesuai dengan cita-cita pembangunan nasional, yaitu menuju masyarakat adil, makmur, dan sejahtera.

Dalam mencapai keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan sebagai wujud nyata dari Hubungan Perburuhan Pancasila, diperlukan wadah yang bercirikan kebersamaan bagi kaum buruh agar dapat melaksanakan cita-cita tersebut di atas.

Para kaum buruh Indonesia bertekad mensukseskan pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila dan untuk mengoptimalkan kesejahteraan kaum buruh di Indonesia.

Dengan Rhido Tuhan Yang Maha Esa, kami para buruh dan aktivis buruh, pada hari Sabtu, tanggal 25 April 1992 menyatukan perjuangan bersama dengan mendirikan SERIKAT BURUH SEJAHTERA INDONESIA, yang sisingkat disingkat SBSI.

Pada kongres SBSI IV tahun 2003 bentuk organisasi disempurnakan menjadi  Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Unitaris-Sektor,disingkat SBSI.

 

Dalam rangka mencapai cita-cita bersama, disusunlah Anggaran Dasar sebagai berikut :

 

BAB I

NAMA, KEDUDUKAN, STATUS, BENTUK, DAN KEDAULATAN

Pasal 1

NAMA

 

Organisasi ini bernama SERIKAT BURUH SEJAHTERA INDONESIA disingkat SBSI.

 

Pasal 2

KEDUDUKAN

 

Organisasi ini berkantor Pusat di Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Pasal 3

STATUS

 

Organisasi ini adalah organisasi buruh yang berdaulat, demokratis, independen, dan mandiri.

 

Pasal 4

BENTUK

 

Organisasi ini berbentuk Unitaris.

 

 

Pasal 5

KEDAULATAN

 

Kedaulatan tertinggi organisasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia berada pada anggota yang dilakukan sepenuhnya pada Kongres.

 

BAB II

ASAS, LANDASAN, TUJUAN, FUNGSI DAN USAHA

Pasal  6

ASAS

 

Organisasi ini berazaskan Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945.

 

Pasal 7

LANDASAN

 

Landasan Konstitusional organisasi adalah :

 

  1. Anggaran Dasar.
  2. Anggaran Rumah Tangga.
  3. Keputusan-keputusan lainnya dalam Kongres.

 

Pasal 8

TUJUAN

 

Organisasi ini didirikan dengan  tujuan:

 

  1. Mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia (welfarestate) yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 melalui pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

 

  1. Menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi buruh dengan hak seperti berunding secara kolektif untuk menyatakan pendirian, pendapat, hak untuk mengadakan perjanjian perburuhan, dan perlindungan hukum.

 

  1. Menumbuh-kembangkan solidaritas, rasa kebersamaan buruh pada bidang pekerjaan serta mewujudkan rasa persatuan sesama buruh.

 

  1. Mencapai kesejahteraan kaum buruh dan keluarganya dengan syarat dan kondisi kerja untuk mencapai kehidupan yang layak sesuai dengan harkat dan martabat manusia.

 

Pasal 9

FUNGSI

Untuk mencapai tujuan, organisasi ini berfungsi:

 

  1. Menegakkan hukum, keadilan, dan demokrasi.

 

  1. Membela, melindungi dan memperjuangkan hak, kepentingan serta aspirasi buruh.

 

  1. Menggalang kebersamaan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan nasional.

 

  1. Berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan politik dan sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ketenaga kerjaan secara langsung dan tidak langsung.

 

Pasal 10

USAHA

 

Untuk mencapai tujuan, organisasi ini melakukan usaha :

 

  1. Berperan mempengaruhi kebijaksanaan umum pada bidang perburuhan.

 

  1. Mengupayakan penyadaran dan pembelaan hukum untuk mewujudkan

keadilan dan kesejahteraan buruh.

 

  1. Menyelenggarakan pendidikan perburuhan secara sistematis, berkesinambungan dan terpadu.

 

  1. Memperjuangkan pembuatan peraturan kerja yang mencerminkan demokrasi yang berkeadilan sosial, mempertinggi mutu pengetahuan ketrampilan bidang pekerjaan, dan kemampuan berorganisasi bagi buruh.

 

  1. Menjalin serta membina hubungan dan melakukan kerjasama dengan serikat buruh dalam  dan luar negeri.

 

 

BAB III

BENDERA, LAMBANG, DAN LAGU

Pasal 11

BENDERA

 

Bendera organisasi dengan dasar warna biru dan lambang organisasi di tengah.

 

Pasal 12

LAMBANG

 

Lambang organisasi mencerminkan  :

 

  1. Warna dasar putih mencerminkan kesucian.

 

2.  Warna biru donker mencerminkan kedamaian di atas warna dasar, terdiri dari:

a)      Rantai, terdiri dari 25 lingkaran yang mencerminkan tanggal lahir SBSI pada tanggal 25, terletak di sebelah kanan dari lambang.

b)      Roda mesin, terdiri dari 5 (lima) gerigi mesin mencerminkan kekuatan buruh yang berasaskan Pancasila, dan 4 (empat) spasi gerigi, mencerminkan kelahiran pada bulan empat (April) yang  terletak di sebelah kiri dari lambang.

c)      Padi dan kapas, mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan.

d)      Timbangan/dacing, mencerminkan keadilan.

3.      Palang berwarna merah putih di bawah lambang organisasi dengan tulisan SBSI berwarna biru donker, mencerminkan SBSI berdiri di dalam Negara kesatuan Republik Indonesia.

 

 

Pasal 13

LAGU

 

Lagu SBSI adalah Mars SBSI.

 

BAB IV

KEANGGOTAAN ORGANISASI

Pasal 14

KEANGGOTAAN

 

  1. Anggota SBSI adalah buruh yang bekerja di bidang-bidang sektoral yang ada di dalam SBSI.

 

  1. Yang menjadi anggota SBSI adalah buruh warga Negara Indonesia bergabung dari sektor sejenis atau berlainan dalam satu DPC (Dewan Pengurus Cabang) di tingkat kota atau kabupaten atau gabungan kota dan kabupaten

 

  1. Anggota terdiri dari :

 

  1. Anggota Biasa.
  2. Anggota Luarbiasa.
  3. Anggota Kehormatan.

 

Pasal 15

HAK  ANGGOTA

 

  1. Anggota Biasa :

 

  1. Mempunyai hak suara, hak memilih, dan hak dipilih.
  2. Memperoleh segala pelayanan yang dilakukan organisasi.
  3. Menikmati segala usaha organisasi.

 

  1. Anggota Luar Biasa:

 

  1. Mempunyai hak bicara.
  2. Memperoleh segala pelayanan yang dilakukan organisasi.

 

  1. Anggota Kehormatan mempunyai hak bicara.

 

  1. Setiap anggota SBSI mempunyai hak :

 

a.   Memperoleh pendidikan.

b.  Memperoleh perlindungan hukum.

c.  Menikmati hasil usaha organisasi.

 

Pasal 16

KEWAJIBAN ANGGOTA

 

  1. Anggota biasa :

 

  1. Mentaati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan organisasi.
  2. Membela dan menjunjung tinggi nama baik organisasi.
  3. Membayar iuran keanggotaan.
  4. Turut aktif melaksanakan keputusan organisasi.
  5. Menghadiri rapat, pertemuan, dan kegiatan yang diadakan organisasi.
  6. Tidak menjadi anggota affiliasi organisasi lain yang sejenis.

 

  1. Anggota Luar Biasa dan Kehormatan :

 

  1. Mentaati AD/ART Organisasi.
  2. Membela dan menjunjung tinggi nama baik organisasi.

 

Pasal 17

SANKSI

 

Sanksi adalah tindakan hukuman yang dikenakan pada anggota  dan atau pengurus berupa:

 

  1. Peringatan.
  2. Pembebasan tugas.
  3. Pemberhentian sementara atau skorsing.
  4. Pemecatan.

 

BAB V

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

Pasal 18

KEPUTUSAN

 

  1. Keputusan persidangan/rapat-rapat organisasi pada semua jajaran dan tingkatan atas dasar  musyawarah untuk mencapai mufakat.
  2. Apabila musyawarah tidak mencapai mufakat, dapat ditempuh pemungutan suara (voting).

 

Pasal 19

TINGKAT KEPUTUSAN

 

  1. Organisasi ini mempunyai tingkat keputusan yang hirarkis, sebagai berikut:
  2. Kongres.
  3. Musyawarah Nasional.
  4. Rapat Kerja Nasional.
  5. Rapat Pleno.
  6. Rapat Harian Dewan Pengurus Pusat.
  7. Kongres Sektor.
  8. Rapat kerja Nasional Sektor.
  9. Rapat Pleno Sektor.
  10. Rapat Harian Sektor.
  11. Rapat Kerja Wilayah.
  12. Rapat Kordinator Wilayah.
  13. Konferensi Cabang.
  14. Rapat DPC.
  15. Rapat Anggota Komisariat.
  16. Rapat Pengurus Komisariat.

 

  1. Keputusan yang lebih rendah tunduk kepada keputusan yang lebih tinggi sesuai dengan tingkat keputusan organisasi.
  2. Keputusan yang menyangkut external organisasi dan Lintas sektoral dan atau   Sektor  dapat diselesaikan melalui Rapat Pleno.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

KONGRES DAN KONGRES LUAR BIASA , RAPAT KOORDINASI NASIONAL, RAPAT KERJA NASIONAL, RAPAT PLENO, RAPAT KERJA WILAYAH

 

Pasal 20

KONGRES

 

  1. Kongres adalah Forum tertinggi pengambil keputusan  pada organisasi.
  2. Kongres  berlangsung 1 (satu) kali dalam 4 (empat ) tahun.
  3. Kongres dilaksanakan untuk :

 

  1. Menilai laporan pertanggung-jawaban Dewan Pengurus Pusat.
  2. Menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi.
  3. Menetapkan Garis-garis Besar Haluan Organisasi.
  4. Memilih Majelis Pertimbangan Organisasi.
  5. Memilih Badan Pemeriksa Keuangan.
  6. Memilih Dewan Pengurus Pusat
  7. Menetapkan Komisi Kesetaraan.
  8. Membuat keputusan yang lainnya untuk organisasi.

 

  1. Kongres dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 1/2 (setengah) ditambah 1 (satu) orang dari jumlah seluruh utusan yang telah ditentukan.

 

  1. Pemberitahuan Kongres disampaikan ke semua tingkat kepengurusan selambat-lambatnya 4 (empat) bulan Sebelum pelaksanaan

 

 

 

 

 

 

Pasal 21

KONGRES LUAR BIASA SBSI

 

  1. Kongres Luar Biasa hanya dapat dilaksanakan jika Dewan Pengurus Pusat dinilai telah menyimpang dan tidak dapat melaksanakan amanat Kongres

 

  1. Kongres Luar Biasa dapat dilakukan atas permintaan paling sedikit 2/3 (dua pertiga) dari seluruh delegasi kongres setelah melalui rapat secara nasional.

 

  1. Kongres Luar Biasa dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Pusat. Apabila  Dewan Pengurus Pusat menolak melaksanakan Kongres Luar Biasa, maka pelaksanaan Kongres Luar Biasa dapat diambil alih oleh Majelis Pertimbangan Organisasi.

 

  1. Pelaksanaan Kongres Luar Biasa dilakukan 4 (empat) bulan sejak usulan diajukan.

 

 

Pasal 22

MUSYAWARAH NASIONAL SBSI

 

  1. Musyawarah Nasional diselenggarakan bila dianggap perlu.

 

  1. Musyawarah Nasional mempunyai tugas dan wewenang :

 

  1. Membahas persoalan yang belum diatur pada Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga.
  2. Membahas persoalan yang bersifat regional, nasional, dan internasional yang sedang berkembang.
  3. Menindak-lanjuti keputusan-keputusan yang belum diatur pada AD/ART  SBSI.
  4. Memilih Ketua Umum dan atau Sekretaris Jenderal apabila berhalangan tetap.

 

 

Pasal 23

RAPAT KERJA NASIONAL SBSI

  1. Rapat Kerja Nasional diadakan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

 

  1. Rapat Kerja Nasional  dilaksanakan untuk :

 

  1. Evaluasi kerja tahunan.
  2. Menyusun program kerja tahunan organisasi.

 

Pasal 24

RAPAT PLENO  SBSI

  1. Rapat Pleno diadakan minimal 1 (satu) kali dalam 1 bulan.

 

  1. Rapat pleno dilaksanakan untuk :

 

  1. Mengevaluasi program bulanan.
  2. Menyusun program kerja dan anggaran keuangan organisasi.
  3. Membahas masalah-masalah eksternal dan internal  organisasi.

 

  1. Rapat Pleno DPP SBSI dihadiri oleh :

 

  1. MPO.
  2. BPK.
  3. Dewan Pengurus Pusat SBSI.
  4. Dewan Pengurus Pusat Sektor.
  5. Komisi Kesetaraan.
  6. Departemen-departemen.

 

Pasal 25

RAPAT HARIAN DEWAN PENGURUS PUSAT

  1. Rapat Harian DPP Melaksanakan keputusan-keputusan di atasnya.

 

  1. Rapat Harian DPP dihadiri:

 

  1. Ketua Umum.
  2. Sekretaris Jenderal.
  3. Ketua Konsolidasi wilayah I.
  4. Ketua konsolidasi Wilayah II.
  5. Bendahara.
  6. Departemen-departemen yang diundang.

 

Pasal 26

KONGRES SEKTOR

  1. Kongres Sektor adalah badan pengambil keputusan tertinggi di tingkat Sektor.

 

  1. Kongres Sektor berlangsung 1 (satu)kali dalam 4 (empat) tahun.

 

  1. Kongres dilaksanakan untuk :

 

  1. Menilai Pertanggungjawaban Pengurus Pusat Sektor.
  2. Memilih Pengurus Pusat Sektor untuk masa kerja 4 tahun.
  3. Menetapkan Peraturan Rumah Tangga Sektor yang tidak bertentangan dengan AD/ART SBSI.

 

Pasal 27

RAPAT KERJA WILAYAH

  1. Rapat Kerja Wilayah diadakan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun untuk :

 

  1. Mengevaluasi program kerja wilayah.
  2. Menyampaikan laporan kegiatan dan keuangan korwil dan DPC-DPC.
  3. Menetapkan keputusan perwakilan SBSI untuk duduk di lembaga eksternal.
  4. Menyusun program kerja wilayah.
  5. Mengevaluasi kinerja perwakilan SBSI di tripartite di tingkat propinsi.
  6. Membahas aspirasi politik SBSi di tingkat wilayah/propinsi.
  7. Membuat dan menyampaikan rekomendasi ke DPP.

 

2.  Rapat Kerja Wilayah dilaksanakan oleh Koordinator Wilayah.

 

3.  Peserta Rapat Kerja Wilayah,  sebagai    berikut :

 

  1. Kordinator Wilayah.
  2. Alat-alat bantu Korwil.
  3. Perwakilan DPC
  4. Komisi Kesetaraan propinsi.
  5. Perwakilan SBSI di tripartite tingkat propinsi.
  6. Undangan.

 

 

Pasal 28

RAPAT KOORDINASI WILAYAH

  1. Rapat  Koordinasi Wilayah diadakan minimal 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan untuk :

 

  1. Merancang kebijakan – kebijakan di tingkat wilayah.
  2. Menetapkan keputusan perwakilan SBSI untuk duduk di lembaga eksternal.
  3. Membahas masalah-masalah eksternal dan lintas Sektor yang tidak dapat diselesaikan melalui mekanisme organisasi.
  4. Membina kutuhan soliditas dan solidaritas keluarga SBSI.

 

2.  Rapat Koordinasi Wilayah dilaksanakan oleh Koordinator Wilayah.

3.  Peserta Rapat koordinasi Wilayah, sebagai berikut :

 

  1. Majelis pertimbangan Wilayah.
  2. Koordinator Wilayah.
  3. Alat-alat bantu Korwil.
  4. Ketua Dewan Pengurus Cabang.
  5. Ketua komisi kesetaraan propinsi.

 

BAB VIII

ALAT KELENGKAPAN ORGANISASI

Pasal 29

ALAT KELENGKAPAN ORGANISASI

Organisasi ini memiliki perangkat kelengkapan organisasi yang terdiri dari:

 

  1. Majelis Pertimbangan Organisasi.
  2. Badan Pemeriksa Keuangan.
  3. Dewan Pengurus Pusat SBSI.
  4. Pengurus Pusat Sektor.
  5. Komisi Kesetaraan Nasional.
  6. Koordinator Wilayah.
  7. Dewan Pengurus Cabang SBSI.
  8. Pengurus Komisariat.

 

 

Pasal 30

MAJELIS PERTIMBANGAN ORGANISASI

  1. Majelis Pertimbangan Organisasi adalah badan yang bertugas mengawasi  Dewan Pengurus Pusat SBSI dan yang  memberi pertimbangan terhadap program organisasi.
  2. Pengambil Keputusan atas masalah internal yang terjadi di internal sebagai tingkat banding dan tingkat pusat.
  3. Apabila Majelis Pertimbangan Organisasi melihat, dalam menjalankan keputusan Dewan Pengurus Pusat telah menyimpang dari AD/ART organisasi serta Keputusan Kongres, Majelis Pertimbangan Organisasi dapat mengeluarkan memorandum kepada Dewan Pengurus Pusat.
  4. Apabila memorandum pertama tidak diperhatikan oleh Dewan Pengurus Pusat, akan disusul dengan memorandum kedua dalam tenggang waktu dua bulan.
  5. Setelah memorandum pertama dan kedua disampaikan, Dewan Pengurus Pusat tetap menyimpang dari AD/ART dalam menjalankan tugas, Majelis Pertimbangan Organisasi dapat menyelenggarakan Kongres Luar Biasa yang disetujui minimal 2/3 (dua pertiga) dari seluruh anggota delegasi kongres setelah melalui rapat secara nasional.

 

Pasal 31

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

  1. Badan Pemeriksaan Keuangan bersifat independent yang bertugas memeriksa keuangan organisasi secara berkala.
  2. Badan Pemeriksaan Keuangan berjumlah 3 (tiga) orang.
  3. Masa bhakti Badan Pemeriksaan Keuangan bersamaan dengan masa bhakti Dewan Pengurus Pusat

 

Pasal 32

DEWAN PENGURUS PUSAT PLENO SBSI

Dewan Pengurus Pusat Pleno SBSI yang tercermin dalam rapat pleno  merupakan lembaga representatif organisasi  Serikat Buruh Sejahtera Indonesia yang terdiri dari :

  1. MPO
  2. BPK
  3. Dewan Pengurus Pusat SBSI
  4. Dewan Pengurus Pusat Sektor
  5. Komisi Kesetaraan Nasional
  6. Departemen-departemen

Pasal 33

DEWAN PENGURUS PUSAT

  1. Dewan Pengurus Pusat adalah  merupakan pemegang kekuasaan eksekutif nasional organisasi di lingkungan  Serikat Buruh Sejahtera Indonesia yang dipilih pada kongres untuk masa bakti 4 (empat) tahun.
  2. Dewan Pengurus Pusat berwenang bertindak untuk dan atas nama organisasi.
  3. Untuk memperlancar tugas organisasi, Dewan Pengurus Pusat dapat membentuk lembaga, departemen, dan atau badan pembantu lain.
  4. Dewan Pengurus Pusat terdiri dari :
  1. Ketua Umum.
  2. Sekretaris Jenderal.
  3. Ketua Konsolidasi Wilayah I.
  4. Ketua Konsolidasi wilayah II.
  5. Bendahara.

 

Pasal 34

KOMISI KESETARAAN

  1. Komisi Kesetaraan adalah lembaga khusus yang dibentuk di kongres untuk memperjuangkan kesetaraan gender dalam organisasi.
  2. Komisi kesetaraan berada di tingkat :
  1. Nasional.
  2. Propinsi.
  3. Kabupaten/Kota.

 

2.  Komisi Kesetaraan bertugas untuk :

  1. Memberikan penyadaran tentang kesadaran gender kepada anggota dan pengurus dalam organisasi.
  2. Menangani issu-issu kesetaraan gender.
  3. Memberikan perlindungan dan pendidikan kepada anggota khususnya yang berhubungan dengan hak-hak buruh perempuan.
  4. Mewakili kuota anggota perempuan dalam menentukan kebijakan organisasi.
  5. Memastikan quota perempuan minimal 30% dalam setiap struktur, peserta pelatihan, delegasi rapat-rapat organisasi dan kegiatan lainnya.

 

 

Pasal  35

DEWAN PENGURUS PUSAT SEKTOR 

  Pengurus Pusat Sektoral merupakan  pemegang kekuasaan eksekutif tertinggi untuk masa 4 tahun di tingkat sektor, yang berwenang mewakili sektor ke dalam dan keluar organisasi yang dipilih dan ditetapkan oleh DPP SBSI.

  1. Dewan Pengurus Pusat Sektor dipimpin oleh seorang Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.
  2. Sektor SBSI terdiri dari:
  1. Sektor Industri, Kesehatan, Energi dan Pertambangan (S-BI) yang terdiri dari : garmen, tekstil, kulit, sepatu, logam, mesin, bengkel, elektronik, pabrik makanan, pabrik kimia/farmasi, semua jenis pertambangan, pom bensin, pom gas dan rumah sakit.
  2. Sektor Transportasi, Nelayan dan Parawisata (S.TNP) yang terdiri dari : pengangkutan darat, pengangkutan laut, pengangkutan udara, pos, pengiriman barang/surat, bongkar muat, nelayan, resort parawisata, biro perjalanan, hotel dan restoran.
  3. Sektor Pertanian, Perkayuan dan Konstruksi (S-PPK) yang terdiri dari : pertanian rakyat, perkebunan, kehutanan, perkayuan, mebel, perkantoran, developer, kontraktor dan perumahan.
  4. Sektor Bank, Keuangan dan Niaga (S-BKN) yang terdiri dari : Bank, asuransi, lembaga keuangan, leasing, pasar modal. Koperasi,Supermarket, pasar swalayan, pasar tradisional dan pedagang kakilima.
  5. Sektor Pendidikan dan Pegawai Negeri (S-PPN) yang terdiri dari : dosen, guru, karyawan pendidikan/pelatihan, LSM, pekerja agama, pegawai negeri dan pegawai lainnya yang bekerja di kantor pemerintahan.
  6. Sektor Media, Informatika dan Grafika (S-MIG) yang terdiri dari perusahaan pers, televisi, telematika, informatika, penerbitan dan percetakan.

 

  1. Pengembangan dan penggabungan Sektor dapat dilakukan atas keputusan kongres
  2. SBSI.Sektor lain dapat dibentuk dengan syarat minimal memiliki 5.000 dan dapat ditetapkan oleh DPP  SBSI berdasarkan keputusan kongres SBSI
  3. Serikat Buruh lain di luar SBSI yang berkeinginan bergabung dengan Sektor SBSI, dapat disetujui melalui syarat :

 

  1. Menulis permohonan affiliasi.
  2. Menyatakan bersedia menerima dan mentaati AD/ART dan keputusan Organisasi K SBSI.
  3. Membayar iuran.
  4. Memiliki paling sedikit 5000 orang anggota.
  5. Disahkan pada Kongres SBSI.

 

Pasal 36

PENGURUS WILAYAH

  1. Pengurus Wilayah  merupakan alat bantu yang diangkat Dewan Pengurus Pusat di wilayah Propinsi.
  2. Pengurus Wilayah defenitif ditetapkan setelah adanya minimal 3  (tiga) DPC  aktif  di wilayah bersangkutan bersamaan  dengan kongres yang masa kerjanya sama dengan DPP SBSI.
  3. Pengurus wilayah terdiri dari Majelis Pertimbangan Wilayah dan Kordinator Wilayah.
  4. Majelis Pertimbangan Wilayah berjumlah tiga orang, seorang  ketua dan dua anggota yang bertugas:
  1. Mengawasi kordinator wilayah.
  2. Memberi pertimbangan kepada kordinator wilayah.
  3. Memeriksa dan memberi putusan atas sengketa dan masalah internal di bawah kordinator wilayah.

 

  1. Kordinator wilayah terdiri seorang Ketua, seorang sekretaris dan seorang Bendahara.

 

  1. Kordinator wilayah dapat mengangkat alat bantu sesuai kebutuhan yang dipimpin seorang sekretaris eksekutif: untuk Lembaga Bantuan Hukum, Departemen Konsolidasi, Departemen Pendidikan/Pelatihan, Departemen Humas/tripartite, Departemen usaha kesejahteraan, dan Departemen kesetaraan gender.

 

  1. Apabila di dalam suatu wilayah terdapat tiga DPC Sektor yang sama  atau sesuai kebutuhan, maka koordinator wilayah dapat mengangkat  Sekretaris Wilayah Sektoral yang bertugas untuk memperjuangkan tripartite / upah sektoral, advokasi PKB sektoral dan data keanggotaan sektoral.

 

 

  1. Pengangkatan Sekretaris Eksekutif Sektor di wilayah dilakukan oleh DPP SBSI atas usul Korwil dan mendapat rekomendasi dari DPP Sektor.

 

Pasal 37

 PENGURUS CABANG

  1. Pengurus Cabang SBSI defenitif dilakukan  di satu kota/kabupaten atau gabungan dari kota/kabupaten setelah memiliki minimal 3 Pengurus Komisariat dan 200 orang anggota.

 

  1. Sebelum ada yang defenitif, Korwil dapat mengeluarkan sk mandat untuk masa 6 bulan, dan dapat diperpanjang satu kali yang laporannya disampaikan ke DPP SBSI.

 

  1. Pengurus Cabang terdiri dari Majelis Pertimbangan Cabang dan Dewan Pengurus Cabang.

 

  1. Majelis Pertimbangan Cabang terdiri dari 3 orang, seorang  ketua dan dua orang anggota yang bertugas:

 

  1. Mengawasi DPC dan PK-PK di bawah DPC.
  2. Memberi nasihat kepada DPC.
  3. Memberi rekomendasi kepada MPW atas masalah internal yang terjadi.

 

  1. Dewan Pengurus Cabang terdiri dari sekurang-kurangnya 5 orang, ketua, sekretaris, wakil ketua, wakil sekretaris dan bendahara.

 

  1. apabila di suatu Cabang telah memiliki minimal tiga PK di satu Sektor yang sama atau sesuai kebutuhan, maka Dewan Pengurus Cabang dapat diangkat satu wakil Ketua yang membidangi Sektor tersebut, yang bertugas untuk memperjuangkan tripartite/upah sektoral, advokasi PKB sektoral dan data keanggotaan sektoral.

 

  1. Pengangkatan wakil Ketua DPC Sektor dilakukan oleh DPP SBSI atas usul DPC dan mendapat rekomendasi dari Korwil dan DPP Sektor.

 

 

  1. SK pengangkatan DPC dikeluarkan oleh DPP atas usul Korwil untuk masa kerja empat tahun.

 

 

Pasal 38

PENGURUS KOMISARIAT

  1. apabila terdapat minimal 10 orang di suatu tempat kerja yang menyatakan bersedia menjadi anggota, dapat didirikan Pengurus Komisariat.

 

  1. Pengurus Komisariat menjalankan fungsi organisasi di tingkat pekerjaan atauperusahaan.

 

  1. Pengurus Komisariat terdiri dari minimal 3 orang, yakni Ketua, Sekretaris dan Bendahara dan maksimal 9 orang.

 

  1. SK pengangkatan PK dikeluarkan oleh DPC untuk masa kerja dua tahun.

 

BAB IX

KEUANGAN ORGANISASI

Pasal 39

SUMBER KEUANGAN

Sumber keuangan organisasi diperoleh dari :

 

  1. Iuran anggota.
  2. Sumbangan yang tidak mengikat.
  3. Usaha-usaha lain yang sah.

 

Pasal 40

PENGGUNAAN DANA

  1. Keuangan organisasi digunakan untuk :

 

  1. Pengelolaan serta pengembangan organisasi.
  2. Pelaksanaan program organisasi.
  3. Membayar iuran keanggotaan kepada organisasi afiliasi

 

  1. Keuangan organisasi tidak diperbolehkan untuk :

 

  1. Kepentingan pribadi.
  2. Dipergunakan di luar kepentingan organisasi.

 

Pasal 41

PERTANGGUNG-JAWABAN KEUANGAN ORGANISASI

  1. Dewan Pengurus Pusat SBSI mempertanggung-jawabkan penggunaan keuangan pada Kongres  setelah Badan Pemeriksa Keuangan melakukan pemeriksaan keuangan.

 

  1. Pengurus Pusat Sektoral mempertanggung-jawabkan penggunaan keuangan kepada Rapat Umum Sektoral dan DPP SBSI.

 

  1. Korwil Sektor mempertanggung-jawabkan penggunaan keuangan kepada Dewan Pengurus Pusat dan Rapat Kerja Wilayah.

 

  1. Dewan Pengurus Cabang Mempertanggung jawabkan penggunaan keuangan kepada Kordinator Wilayah dan DPP Sektor melalui konferensi Cabang.

 

  1. Pengurus Komisariat Mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan kepada DPC melalui Rapat anggota.

 

  1. Dalam rangka pertanggung jawaban keuangan, semua uang masuk organisasi dan pengeluaran DILAKUKAN melalui rekening bank organisasi.

 

 

 

 

BAB XI

PEMBUBARAN DAN ATURAN PERALIHAN

Pasal 42

PEMBUBARAN

 

  1. Organisasi ini dapat dibubarkan berdasarkan keputusan kongres yang khusus berlangsung untuk maksud tersebut, yang diusulkan minimal   3/4 (tiga perempat) dari cabang dan memperoleh persetujuan dari 3/4 (tiga perempat) utusan yang hadir.

 

  1. Dewan Pengurus Pusat memberitahukan usulan pembubaran organisasi kepada semua perangkat organisasi di seluruh Indonesia, dengan tenggang waktu 6 (enam) bulan sebelum Kongres SBSI yang khusus untuk bermaksud tersebut dilaksanakan

 

  1. Apabila sudah menjadi anggota afiliasi maka Pembubaran  SBSI diberitahukan kepada organisasi afiliasi.

 

  1. Harta kekayaan organisasi akan disumbangkan untuk serikat buruh yang independen.

 

 

Pasal 43

ATURAN PERALIHAN

Bila timbul perbedaan penafsiran mengenai suatu ketentuan dalam Anggaran Dasar ini, tafsiran yang sah akan ditetapkan oleh Majelis Pertimbangan Organisasi setelah mendengar usulan rapat pleno dan dipertanggung jawabkan pada Kongres  SBSI.

 

 

 

Pasal 44

PENUTUP

  1. Anggaran Dasar ini merupakan sumber tertib dan  acuan hukum untuk semua aturan organisasi SBSI.

 

  1. Semua anggota wajib mentaati AD/ART ini.

 

  1. Apabila di dalam isi Anggaran Dasar ini masih ada yang kurang sesuai, amandemen dapat dilakukan melalui Kongres SBSI.

 

  1. Anggaran Dasar ini diambil dari Anggaran dasar 2003 yang disempurnakan, diberi nama Anggaran Dasar SBSI yang berlaku sejak tanggal ditetapkan.

 

——————————————————————————————————————————————-

 

ANGGARAN RUMAH TANGGA

 SERIKIKAT BURUH SEJAHTERA INDONESIA

 

Pasal 1

KEANGGOTAAN

  1. Anggota biasa, yaitu buruh yang memiliki hubungan kerja ataupun di luar hubungan kerja, yang telah melalui proses penerimaan anggota dan bersedia membayar iuran.

 

  1. Anggota Luar Biasa adalah orang yang tidak termasuk buruh, tetapi komitmen  terhadap perjuangan SBSI dan bersedia membayar iuran bulanan.

 

  1. Anggota Kehormatan, adalah setiap orang yang yang diangkat DPP SBSI karena berjasa terhadap perjuangan SBSI dan diusulkan oleh DPC atau Korwil atau DPP Sektor.

 

Pasal 2

PENERIMAAN ANGGOTA 

  1. Untuk menjadi anggota SBSI, harus mengisi formulir dan dimajukan kepada Pengurus Komisariat atau DPC atau Korwil atau DPP Sektor.

 

  1. Yang mensahkan keanggotaan seseorang dan mengeluarkan Kartu Tanda Anggota adalah DPC SBSI.

 

  1. Korwil  dapat mengeluarkan Kartu Tanda Anggota sementara apabila DPC SBSI belum terbentuk.

 

  1. Apabila di wilayah tersebut belum  terbentuk Koordinator Wilayah dan Dewan Pengurus Cabang, maka DPP SBSI yang akan mengeluarkan kartu anggota sementara.

 

 

 

Pasal 3

SYARAT MENJADI PENGURUS

  1. Syarat menjadi Pengurus Komisariat adalah :

 

  1. Tidak pernah mendapat sanksi/hukuman organisasi.
  2. Minimal menjadi anggota aktif satu tahun, kecuali PK baru.
  3. bersedia dicalonkan oleh anggota atau mencalonkan diri dan disahkan olehRapat Anggota Komisariat

 

  1. Syarat menjadi Pengurus Cabang ( MPC dan DPC ) adalah:

 

  1. Tidak pernah mendapat sanksi hukuman organisasi
  2. Minimal menjadi anggota dua tahun, kecuali DPC baru
  3.  Bersedia dicalonkan PK atau mencalonkan diri dan dipilih konferensi Cabang.

 

  1. Syarat menjadi Pengurus Wilayah  (MPW dan Korwil) adalah :

 

  1. Tidak pernah mendapat sanksi/hukuman organisasi sebagaimana yang tercantum pada Pasal 18, butir 2 (dua) dan 3 (tiga) AD SBSI maupun sanksi pembekuan, kecuali dinyatakan tidak bersalah pada Kongres  SBSI.
  2. Minimal pernah menjadi anggota aktif DPC atau Sekretaris Divisi Korwil SBSI selama 4 (empat) tahun, kecuali propinsi yang baru dibentuk.
  3. Mekanisme pemilihan Pengurus Wilayah  dilakukan berdasarkan usulan mayoritas DPC dan diangkat oleh DPP.SBSI.

 

  1. Syarat menjadi pengurus tingkat Dewan Pengurus Pusat SBSI dan Pengurus Pusat Sektoral adalah:

 

  1. Tidak pernah mendapat sanksi/hukuman organisasi sebagaimana yang tercantum pada Pasal 17, butir 2 (dua) dan 3 (tiga) AD SBSI maupun sanksi pembekuan, kecuali dinyatakan tidak bersalah pada Kongres  SBSI.
  2. Minimal telah aktif 4 (empat) tahun secara terus menerus menjadi anggota SBSI kecuali Sektor baru.
  3. Bersedia dicalonkan atau mencalonkan diri dan disahkan oleh Kongres dan  DPP SBSI.

 

Pasal 4

KEANGGOTAAN BERAKHIR

Keanggotaan berakhir karena :

 

  1. Permintaan mengundurkan secara tertulis.
  2. Meninggal dunia.
  3. Kehilangan kewarganegaraan Indonesia.
  4. Dipecat oleh organisasi

 

Pasal 5

SANKSI

  1. Pemberian sanksi diberikan karena terbukti melakukan pelanggaran yang merugikan organisasi, baik langsung atau tidak langsung.

 

  1. Sanksi dalam bentuk peringatan disampaikan tertulis kepada anggota sesuai dengan hirarki organisasi.

 

  1. Sanksi dalam bentuk skorsing dilaksanakan setelah didahului dengan peringatan tertulis berturut-turut selama 3 (tiga) kali sesuai hirarhi organisasi.

 

  1. Dalam hal pelanggaran berat, organisasi dapat langsung memberikan sanksi berupa pemecatan.
  2. Pemberian sanksi pemecatan diputuskan oleh pleno DPP SBSI atas rekomendasi tertulis MPW atas kesalahan yang dilakukan pengurus tingkat korwil, DPC, PK dan anggota.serta atas rekomendasi MPO atas kesalahan yang dilakukan DPP SBSI dan Pengurus Pusat Sektoral yang dilengkapi dengan berita acara pemeriksaan dan bukti-bukti.
  3. pemecatan atas rekomendasi MPW dapat melakukan banding kepada MPO.
  4. Terhadap pemutusan pemecatan dapat memajukan pembelaan diri ke Rakernas berikutnya.
  5. Kriteria pemberian sanksi peringatan tertulis dan skorsing
  6. Mengganggu jalannya organisasi
  7. Menyimpang dari mekanisme organisasi
  8. Pelanggaran moral syarat kepengurusan
    1. Kriteria pelanggaran berat adalah :
    2. Segala tindakan yang merusak citra organisasi secara langsung.
    3. Segala tindakan pengurus yang menguntungkan diri sendiri dengan mengorbankan anggota organisasi.

 

Pasal 6

KONGRES

  1. Kongres  dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Pusat SBSI.
  2. Kongres dipimpin oleh 5 (lima) orang Majelis Pimpinan Sidang, terdiri dari 1 (satu) orang unsur Dewan Pengurus Pusat SBSI 1 (satu) orang unsure Pengurus Pusat Sektoral, dan 3 (tiga) orang mewakili unsur wilayah dan Cabang.

 

Pasal 7

PESERTA KONGRES

  1. Kongres dihadiri oleh peserta yang terdiri dari:

 

  1. Delegasi.
  2. Peninjau.
  3. Undangan.

 

  1. Delegasi Kongres terdiri dari :

 

  1. MPO.
  2. BPK.
  3. Dewan Pengurus Pusat.
  4. Dewan Pengurus Pusat Sektoral
  5. Komisi Kesetaraan.
  6. Kordinator Wilayah.
  7. Dewan pengurus Cabang.

 

  1. Peninjau yang diundang Dewan Pengurus Pusat atas usul Sektoral Korwil,  dan atau inisiatif Dewan Pengurus Pusat.

 

  1. Undangan ditetapkan Dewan Pengurus Pusat.

 

  1. Setiap delegasi atau peserta kongres diwajibkan membawa surat mandat.

 

Pasal 8

HAK BICARA DAN  HAK SUARA

  1. Hak bicara pada kongres dimiliki semua peserta.

 

  1. Hak suara pada kongres dimiliki delegasi kongres dengan ketentuan :
  2. Majelis Pertimbangan Organisasi        1 suara.
  3. Badan Pemeriksaan Keuangan           1 suara.
  4. Dewan Pengurus Pusat                         1 suara.
  5. Komisi Kesetaraan                                  1 suara.
  6. Dewan Pengurus Sektor                        1 suara.
  7. Kordinator wilayah                                   1 suara.
  8. Dewan Pengurus Cabang                    berdasarkan  jumlah  anggota.

 

  1. Kuota hak suara Dewan Pengurus cabang ditetapkan oleh DPP SBSI berdasarkan jumlah anggota yang membayar iuran terus menerus sekurangkurangnya satu tahun terakhir, dengan ketentuan kuota:

 

  1. 200 – 2000                                1 suara
  2. 2001 – 5000                             2 suara
  3. 5001- 10.000                            3 suara
  4. 10.001 –  15.000                       4 suara
  5. tiap pertambahan 5.000           1 suara

 

 

 

Pasal  9

MUSYAWARAH NASIONAL SBSI

  1. Musyawarah  Nasional Sektor diselenggarakan oleh DPP SBSI.

 

  1. Musyawarah Nasional dihadiri oleh unsur:

 

  1. Majelis Pertimbangan Organisasi.
  2. Dewan Pengurus Pusat.
  3. Badan Pemeriksaan Keuangan.
  4. Komisi Kesetaraan.
  5. Pengurus Pusat Sektoral
  6. Kordinator wilayah.
  7. Lembaga Otonom/departemen.
  8. 3 DPC SBSI terbesar membayar iuran satu tahun terahir dari setiap provinsi.
  9. Seluruh delegasi masing-masing satu suara.

 

Pasal 10

RAPAT KERJA NASIONAL SBSI

  1. Rapat Kerja Nasional  diselenggarakan oleh DPP SBSI.

 

  1. Rapat Kerja Nasional dihadiri oleh :

 

  1. Majelis Pertimbangan Organisasi.
  2. Dewan Pengurus Pusat.
  3. Badan Pemeriksaan Keuangan.
  4. Komisi Kesetaraan Nasional.
  5. Pengurus Pusat Sektoral
  6. Kordinator wilayah.
  7. Lembaga Otonom/departemen.

 

 

 

Pasal 11

RAPAT PLENO SBSI

  1. Rapat SBSI bertugas untuk merancang kebijakan-kebijakan organisasi, program kerja dan anggaran keuangan organisasi yang akan dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Pusat SBSI minimal satu kali dalam satu bulan.

 

  1. Rapat pleno dihadiri oleh :

 

  1. MPO.
  2. BPK.
  3. Dewan Pengurus Pusat.
  4. Pengurus Pusat Sektoral
  5. Komisi Kesetaraan Nasional
  6. Lembaga Otonom/departemen.

 

  1. Pengambilan keputusan rapat pleno berdasarkan  konsensus.

 

  1. Dalam hal konsensus tidak tercapai, maka pengambilan keputusan  dilakukan dengan cara voting dengan komposisi suara sebagai berikut:

 

  1. MPO 1 (satu) suara.
  2. BPK 1 (satu) suara.
  3. DPP 1 (satu) suara.
  4. Pengurus Pusat Sektoral 1 (satu) suara.
  5. Komisi Kesetaraan Nasional 1 (satu) suara.

 

Pasal 12

DEWAN PENGURUS PUSAT

 

  1. Dewan Pengurus Pusat beranggotakan  5 orang yang dipimpin seorang Ketua Umum dan seorang Sekretaris Jenderal,dibantu  seorang Ketua Konsolidasi,Wilayah I seorang Ketua Ketua Konsolidasi Wilayah II dan seorang Bendahara.

 

  1. Rapat Harian Dewan Pengurus Pusat  SBSI minimal 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu.

 

  1. Dewan Pengurus Pusat dipilih melalui Kongres,. Hasil pemilihan harus dikirim ke seluruh Korwil dan seluruh DPC paling lambat 2 (dua) bulan setelah Kongres.

 

  1. Selama Dewan Pengurus  Pusat yang baru belum terbentuk, Dewan Pengurus Pusat yang lama masih tetap bertanggung jawab ke dalam dan ke luar organisasi.

 

  1. Pergantian Dewan Pengurus Pusat harus disertai dengan serah terima administrasi dan aset organisasi yang lengkap.

 

  1. Dewan Pengurus Pusat dapat menggantikan anggota pengurus yang tidak aktif atau karena mendapat sanksi organisasi  melalui  Rapat pleno kecuali Ketua Umum.

 

  1. Ketua Umum DPP bertugas :
  2. Penanggungjawab tertinggi organisasi ke dalam dan keluar organisasi.
  3. Menandatangani rekening dan cek bersama bendahara.
  4. Menandatangani surat-surat keputusan bersama sekretaris jenderal.
  5. Memimpin rapat-rapat organisasi.
  6. Kordinator Sektor-Sektor.

 

  1. Sekretaris Jenderal bertugas:
  2. Penanggungjawab tertinggi administrasi ke dalam dan ke luar organisasi.
  3. Kordinator harian seluruh program organisasi dan departemen-departemen dan lembaga otonom.
  4. Mempersiapkan dan menandatangani surat-surat keputusan bersama Ketua Umum.
  5. Mengatur rencana anggaran belanja bulanan.
  6. Membuat notulensi-notulensi rapat.

 

  1. Ketua Konsolidasi Wilayah I:
  2. Mewakili Ketua umum bila ketua umum berhalangan.
  3. Melaksanakan penugasan keputusan rapat dan penugasan Ketua Umum.
  4. Menanngungjawabi wilayah I dan pintu komunikasi ke wilayah I yaitu seluruh Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

 

  1. Ketua Konsolidasi Wilayah II:
  2. Mewakili Ketua Umum bila Ketua umum berhalangan.
  3. Melaksanakan penugasan keputusan rapat dan penugasan Ketua Umum.
  4. Menanggungjawabi wilayah II dan pintu  komunikasi ke wilayah I yaitu seluruh Pulau Jawa dan Indonesia timur lainnya.

 

  1. Bendahara bertugas:
  2. Bertanggungjawab atas kebijakan keuangan organisasi.
  3. Mendata sumber-sumber pemasukan keuangan dan pengeluaran organisasi.
  4. Membuat laporan keuangan bulanan, semester dan tahunan.
  5. Bersama Ketua Umum menandatangani rekening dan cek.
  6. Memeriksa keuangan Sektor dan kordinator wilayah.
  7. Menyusun rencana anggaran tahunan organisasi.

 

  1. Departemen-departemen yang dipimpin seorang Sekretaris Eksekutif yang terdiri dari :
  2. Lembaga Bantuan Hukum.
  3. Pendidikan & Pelatihan.
  4. Hubungan Masyarakat & Tripartit.
  5. Hubungan Luar Internasional.
  6. Kajian & data base.
  7. Kampanye pemerintahan bersih korupsi dan aksi sosial.
  8. Usaha peningkatan Kesejahteraan.
  9. Pembinaan buruh muda.

 

  1. Tugas dari LBH:
  2. Memberi bantuan hukum terhadap anggota yang memiliki permasalahan hukum di dalam dan di luar hubungan industrial.
  3. Memberi bantuan hukum kepada masyarakat umum yang memiliki aspek perlindungan HAM.
  4. Aktif dalam kajian hukum khususnya RUU yang terkait pada nasib buruh langsung atau tidak langsung.

 

  1. Tugas Departemen Pendidikan & pelatihan:
  2. Menyelenggarakan pendidikan keorganisasian kepada pengurus pusat dan wilayah.
  3. Menyelenggarakan pendidikan professi unionis di semua tingkatan.
  4. Menyelenggarakan pendidikan penyadaran politik perburuhan.

 

  1. Tugas Departemen Hubungan Masyarakat & Tripartit:
  2. Membangun hubungan dengan kemmennaker, instansi pemerintah lainnya, assosisasi pengusaha serikat serikat buruh dan organisasi-organisasi kemasyarakatan.
  3. Membuat pers realease atas masalah-masalah yang dianggap perlu berhubungan dengan perjuangan SBSI.
  4. Menerbitkan media organisasi yang terbit secara regular.

 

 

 

  1. Tugas Hubungan Internasional:
  2. Membangun hubungan dengan badan-badan dunia yang mengurusi perburuhan secara langsung dan tidak langsung seperti ILO dll.
  3. Membangun hubungan dengan ITUC dan serikat serikat buruh di internasional.
  4. Menggalang sumber-sumber daya yang dapat memperkuat perjuangan organisasi.

 

  1. Tugas Departemen kajian & data base:
  2. Melakukan kajian-kajian dan penelitian yang memperkuat perjuangan organisasi dan mempublikasikannya.
  3. Membuat data base hubungan industrial dan data base SBSI serta memeliharanya.

 

18. Tugas Departemen Kampanye Pemerintahan bersih korupsi dan aksi sosial:

  1. Ikut serta mengkampanyekan anti korupsi dan pembentukan pemerinatahan bersih, efektif dan efisien.
  2. Memelopori dan ikut serta dalam aksi-aksi sosial yang menuju pada terciptanya welfarestate dan keadilan sosial.

 

19. Tugas dari Usaha meningkatkan kesejahteraan:

  1. Melakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan pengurus.
  2. Melakukan kegiatan dan usaha sebagai wujud solidaritas.
  3. Mengupayakan bantuan terhadap pengurus atau anggota yang sedang mengalami musibah.

 

20. Tugas dari Pembinaan Buruh Muda:

  1. Melakukan pendidikan politik perburuhan dan latihan kepemimpinan bagi buruh yang berusia muda di bawah 30 tahun.
  2. Membangun hubungan baik dengan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan sekaligus menjelaskan visi dan missi SBSI, ITUC dan ILO.
  3. Mengupayakan adanya organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang berbasis sosial democrat yang menjadi penerus perjuangan SBSI.

 

Pasal 13

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

  1. Badan Pemeriksaan Keuangan dibentuk oleh Kongres.
  2. Badan Pemerikasaan Keuangan dipilih dan ditetapkan  Kongres.
  3. Badan Pemerikasaan Keuangan bertugas memeriksa laporan keuangan DPP SBSI minimal 2 kali (satu) dalam 1 (satu) tahun dan dilaporkan pada Rapat Kerja Nasional atau musyawarah nasional.
  4. Badan Pemeriksa Keuangan diharuskan membuat laporan pemeriksaan keuangan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan dan bertanggung jawab pada Kongres.

 

 

Pasal 14

KOMISI KESETARAAN NASIONAL

  1. Komisi Kesetaraan Nasional terdiri dari 5 orang, yaitu 3 orang perempuan dan 2 orang laki-laki dengan susunan sebagai berikut :
  2. 1 orang ketua Komisi.
  3. 4 orang anggota yang merupakan representasi dari Sektor.
  4. Ketua dan anggota komisi dipilih  untuk periode 4 (empat) tahun.

 

  1. Rapat Komisi Kesetaraan Nasional  diadakan minimal 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan.

 

Pasal 15

 PENAMBAHAN, PENGURANGAN DAN PERUBAHAN SEKTOR

  1. Dewan Pengurus Pusat  dapat membentuk Sektor yang baru apabila dipandang perlu melalui usulan yang di ajukan dalam Rapat Pleno DPP SBSI.

 

  1. Apabila suatu sektor dirasakan kurang efektif, maka DPP SBSI berkewenangan untuk melakukan evaluasi terhadap sektor tersebut, menggabungkan atau menghilangkan suatu sector setelah melalui evaluasi dipertanggung jawabkan kepasda kongres SBSI.

 

  1.  Untuk menjalankan tugas dan fungsi organisasi, dewan pengurus pusat dapat membentuk lembaga, komite, dan badan pembantu lain yang disetujui rapat pleno

 

Pasal 16

RAPAT RAPAT SEKTOR

Rapat Umum Sektoral, RApat koodinsi Nasional Sektoral dan rapat rapat harian sektoral diatur dalam peraturan rumah tangga sektoral yang tidak bertentangan dengan AD/ART SBSI.

 

Pasal 17

PENGURUS PUSAT SEKTORAL

  1. Pengurus Pusat Sektoral minimal terdiri seorang Ketua Umum, seorang Sekretaris Jenderal, seorang Ketua Wilayah I, seorang Ketua Wilayah II dan seorang Bendahara.
  2. Uraian tugas DPP Sektoral sama dengan uraian tugas DPP SBSI.
  3. Untuk kebutuhan pengembangan Sektor, Pengurus Pusat Sektoral dapat ditambah dengan seorang Wakil Ketua yang bertugas menanggungjawabi humas dan hubungan internasional
  4. Tugas-tugas yang wajib dilakukan oleh Pengurus Pusat Sektoral adalah:
  5. Membangun dan memperkuat tripartit sektoral nasional.
  6. Memperjuangkan sistem pengupahan dan kesejahteraan buruh sektoral secara nasional.
  7. Mempersiapkan PKB sektoral.
  8. Melakukan advokasi kepentingan anggota Sektor.
  9. Membangun hubungan internasional sektoral.
  10. Penguatan  PK dan DPC memperjuangkan nasib anggota Sektor.
  11. Membuat data organisasi dan keanggotaan Sektor.

 

Pasal 18

KOORDINATOR  WILAYAH 

  1. Dewan Pengurus Pusat SBSI dapat membentuk Koordinator Wilayah  di satu wilayah propinsi yang memiliki potensi minimal 3 DPC.

 

  1. Masa bakti Koordinator Wilayah  bersamaan dengan masa bakti Dewan Pengurus Pusat.

 

  1. Rapat Koordinasi Wilayah  merupakan lembaga representatif  Organisasi di tingkat wilayah yang terdiri dari :
  2. Majelis Pertimbangan Wilayah.
  3. Korwil Sektor.
  4. Dewan Pengurus Cabang Sektor.
  5. Komisi kesetaraan.
  6. Departemen-departemen.

 

  1. Rapat Koordinasi Wilayah SBSI minimal 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan yang dilaksanakan oleh Korwil yang diupayakan DPC bergiliran menjadi tuan rumah.

 

  1. Keanggotaan Rapat Koordinasi Wilayah  dapat digantikan apabila berhalangan tetap dan atau karena mendapat sanksi organisasi.

 

  1. Tugas-tugas yang wajib dilakukan oleh korwil adalah :
  2. konsolidasi: rekrut anggota, pembentukan PK dan pembentukan DPC.
  3. Advokasi: bantuan hukum kepada anggota, bantuan hukum kepada masyarakat yang mengalami pelanggaran ham, dan ikut merencanakan per propinsi.
  4. Pendidikan/Pelatihan: Melaksanakan LTC bagi semua DPC, melaksanakan pelatihan professi unionis, pendidikan penyadaran politik kepada DPC dan PK, mendorong DPC melaksanakan BTC.
  5. Kesetaraan gender: menghapus diskriminasi terutama atas gender.
  6. Tripartit: membangun hubungan dengan pemerintah provinsi dan assosiasi pengusaha, membangun hubungan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan, memperjuangkan upah hidup layak.
  7. Administrasi organisasi: surat menyurat, kearsipan, dokumentasi, data keanggotaan.
  8. Administrasi keuangan: uang masuk dan keluar lewat rekening, administrasi keuangan, laporan keuangan dan data iuran.
  9. Ikut serta membangun pemerintahan bersih dari korupsi dan pemerintahan yang efektif dan efisien di tingkat provinsi.
  10. Mengusahakan dana pembinaan serikat buruh masuk dalam APBD Provinsi.

 

  1. Kegiatan ayat 7 dilaporkan sekali tiga bulan ke DPP SBSI.

 

 

 

 

 

Pasal 19

KOFERENSI CABANG 

  1. Konferensi Cabang diselenggarakan oleh DPC  sekali dalam 4 tahun. Bilamana pengurus cabang  tidak  menyelenggarakannya, dapat diambil alih oleh Korwil.
  2. Konferensi Cabang dihadiri oleh :
  3. Dewan Pengurus Cabang.
  4. Majelis Pertimbangan Cabang.
  5. Utusan Komisariat.
  6. Koordinator Wilayah.
  7. Undangan

 

 

Pasal 20

KONFERENSI CABANG LUAR BIASA

  1. Konferensi Cabang Luar Biasa diselenggarakan oleh DPC  apabila diminta oleh 2/3 (dua pertiga) dari Pengurus Komisariat, karena DPC dinilai telah melanggar AD/ART SBSI.

 

  1. Konferensi Cabang Luar Biasa dihadiri oleh sama dengan konferensi Cabang.

 

  1. Koordinator Wilayah menjadi penyelenggara konferensi Cabang Luar Biasa bila DPC tidak menyelenggarakannya.

 

Pasal 21

HAK SUARA

  1. Hak suara pada Konferensi Cabang hanya dimiliki oleh:
    1. DPC 1 suara.
    2. MPC 1 suara.
    3. Utusan komisariat sesuai jumlah anggota.

 

  1. Hak suara Komisariat  ditentukan berdasarkan anggota yang bayar iuran:
    1. 10- 100 ,        1 suara.
    2. 101-200         2 suara.
    3. 201-500         3 suara.
    4. 501-1000       4 suara.
    5. Dan setiap pertambahan 500 anggota mendapatkan 1 suara.

 

Pasal 22

DEWAN PENGURUS CABANG

  1. Dewan Pengurus Cabang diangkat oleh DPP atas usul Korwil untuk masa kerja 4 tahun.
  2. Dewan Pengurus Cabang minimal terdiri dari 5 orang, seorang Ketua, seorang wakil Ketua, seorang Sekretaris, seorang wakil Sekretaris dan seorang Bendahara, yang dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan.
  3. Tugas-tugas yang wajib dilakukan oleh DPC adalah :
  4. Konsolidasi : merekrut anggota, membentuk PK dan menguatkan PK.
  5. Pendidikan & pelatihan: Melaksanakan Bargaining Training Course dasar dan setiap tahun untuk semua PK,  melaksanakan Pendidikan keorganisasian lainnya kepada PK, pendidikan penyadaran politik kepada PK dan anggota dan mendorong PK melakukan Batra dasar dan batra setiap tahun.
  6. Advokasi: bantuan hukum kepada anggota, bantuan hukum kepada masyarakat yang mengalami pelanggaran ham, dan ikut merencanakan perda Kabupaten/Kota.
  7. Kesetaraan Gender: Menghapus diskriminasi terutama atas gender.
  8. Tripartit: membangun hubungan dengan pemerintah kabupaten/kota dan assosiasi pengusaha, membangun hubungan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan, memperjuangkan upah hidup layak.
  9. Administrasi organisasi: surat menyurat, kearsipan, dokumentasi, data keanggotaan.
  10. Administrasi keuangan: uang masuk dan keluar lewat rekening, administrasi keuangan, laporan keuangan dan data iuran.
  11. Ikut serta membangun pemerintahan bersih dari korupsi dan pemerintahan yang efektif dan efisien di tingkat kabupaten/kota.
  12. Mengusahakan dana pembinaan serikat buruh masuk dalam APBD Kabupaten/Kota.

 

  1. DPC wajib membuat laporan sekali tiga bulan kepada Korwil.

 

Pasal 23

RAPAT ANGGOTA KOMISARIAT

  1. Rapat anggota Komisariat berlangsung sekali dua tahun untuk memilih Pengurus Komisariat.
  2. Rapat anggota dihadiri anggota atau perwakilan sesuai Tata cara  yang ditetapkan DPC.

 

Pasal 24

PENGURUS KOMISARIAT

  1. Pengurus Komisariat dipimpin oleh seorang Ketua dan seorang sekretaris yang dipilih Rapat Anggota untuk masa kerja dua tahun yang jumlahnya minimal tiga orang dan maksimal 7 orang.

 

  1. Tugas-tugas PK adalah :
  2. Merekrut anggota.
  3. Melaksanakan pendidikan Basic Training dasar dan basic training lanjutan setiap tahun disertai rekreasi dan hiburan bersama.
  4. Memperjuangkan terwujudnya PKB.
  5. Membela dan melindungi kepentingan anggota.
  6. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan berupa bonus tahunan.
  7. Membuat data keanggotaan dan iuran.
  8. Mengadministrasikan pemasukan dan pengeluaran keuangan dari rekening.

 

  1. PK wajib membuat laporan bulanan kepada DPC.

 

Pasal 25

PEMBAYARAN IURAN ANGGOTA

  1. Iuran anggota  ditetapkan 1% (satu prosen) dari upah dasar dihitung bulanan.

 

  1. Distribusi iuran anggota ditentukan sebagai berikut:
  2. 40% buat PK.
  3. 30% buat DPC.
  4. 10% buat korwil.
  5. 10% buat DPP Sektor.
  6. 10%  buat DPP SBSI.

 

  1. Iuran dimaksud  ayat 2 dikirimkan/ditransfer oleh PK ke rekening PK, DPC, Korwil, DPP SBSI.

 

  1. Penyimpangan dari ayat 3 adalah pelanggaran organisasi yang dapat diberikan sanksi hukuman.

 

Pasal 26

PEMASUKAN DARI USAHA-USAHA

  1. Setiap personalia pengurus dan  anggota di setiap tingkatan berhak mencari sumber-sumber dana untuk penyelenggaraan program atau kegiatan.
  2. Dari jumlah dana pemasukan yang berhasil dimasukkan seseorang, ia berhak mengeluarkan dana operasi sebesar 20 %, setelah terlebih dahulu dimasukkan ke rekening organisasi.

 

Pasal 27

PEMASUKAN DARI PESANGON

  1. Pada dasarnya pengurus tidak boleh mengurus/memperjuangkan phk, kecuali atas permintaan anggota secara tertulis.

 

  1. Pengurus dimungkinkan mengurus phk yang bukan anggota atau urusan hukum yang bukan anggota.

 

  1. Dari jumlah pesangon yang diterima terphk, dipotongkan 20 %, dengan pembagian 10% buat organisasi dan 10% buat yang mengurus.

 

  1. Bila pengurusan itu terdiri dari dua atau tiga tingkatan, dibagi secara proporsional bagi yang mengurus dan bagi organisasi kecuali diperjanjikan sebelumnya.

 

  1. Dana dari pesangon atau hasil pekerjaan itu terlebih dahulu dimasukkan ke dalam rekening organisasi tingkatan tertinggi, baru selanjutnya diserahkan kepada yang berhak.

 

Pasal 28

ATURAN TAMBAHAN

  1. Jabatan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat dan  Koordinator Wilayah SBSI tidak dapat dipilih kembali pada posisi yang sama lebih dari 2 periode secara berturut-turut.

 

  1. Jabatan berikut ini tidak boleh menduduki posisi di partai politik manapun: Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPP SBSI, Ketua dan sekretaris , Korwil SBSI, Ketua dan Sekretaris DPC SBSI.

 

  1. Ketua Umum SBSI tidak boleh menduduki jabatan perwakilan serikat buruh di tingkat nasional dan Ketua Korwil di tingkat provinsi.

 

Pasal 29

PENUTUP

Hal-hal yang belum diatur pada anggaran rumah tangga ini akan diatur lebih lanjut dalam keputusan Musyawarah Nasional, Rapat kerja nasional, Rapat pleno, dan Peraturan Rumah Tangga Sektor.

 

 

 

 

 

 

 

RESOLUSI-RESOLUSI KONGRES SBSI KE – IV

 

Resolusi Ekstern

 

1.         Resolusi tentang Hari Buruh Nasional

1 Mei adalah hari yang diperingati oleh buruh seluruh dunia sebagai hari buruh. Pada hari buruh tersebut, para buruh diberikan kebebasan untuk berekspresi, berkreatifitas dan buruh diliburkan dari segala pekerjaannya. Untuk itu, di Indonesia perlu menghargai jasa-jasa buruh dalam membangun perekonomian bangsa dengan menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Nasional dan libur nasional.

2.         Resolusi tentang Pahlawan Buruh

Marsinah dan Rusli berjuang memperbaiki nasibnya dan nasib buruh pada umumnya, hingga mereka dibunuh dan meninggal karena perjuangannya. Pengorbanannya member inspirasi yang kuat bagi buruh pada umumnya untuk berani berorganisasi dan berani menjadi pahlawan nasional.

3.         Resolusi tentang Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan beribawa, serta bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, diminta kepada pemerintah agar melaksanakan undang-undang No. 31 tahun 1999 dan membatalkan release and discharge kepada konglomerat-konglomerat hitam yang membuat Negara terpuruk dan rakyat menderita TAP MPR No. III tahun 2000 secara konsekuen dan konsisten sesuai dengan amanat reformasi.

4.         Resolusi tentang Pencabutan Pasal 160 KUHP

Mengingat pasal 160 KUHP sering dipergunakan untuk menekan kebebasan berserikat dan kebebasan berekspresi, salah satu diantaranya adalah mengeluarkan pendapat di muka umum, karena itu diminta agar pasal 160 dicabut dari KUHP.

5.         Resolusi tentang Utang Luar Negeri

Peran badan Internasional, seperti IMF dan Bank Dunia pada kenyataannya lebih membuat masyarakat Indonesia menjadi miskin dan menderita. Oleh karena itu diminta agar :

  1. IMF dan Word Bank menghapuskan hutang Luar Negeri yang dikorupsi Rezim Soeharto.
  2. Pemerintah Indonesia menghentikan menambahan hutang baru.
  3. Menolak pengalihan hutang swasta menjadi hutang Negara.
  4. Pemerintah membuat schedule, sampai kapan Indonesia terlepas dari ketergantungan hutang.
  5. Menghentikan program IMF di Indonesia.
  6. Melibatkan SB/SP dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program Lembaga Keuangan Internasional di Indonesia.

6.         Resolusi tentang Jaminan Kebebasaan Berserikat

Kenyataan sampai saat ini kebebsaan berserikat di tingkat basis masih terganggu karena sikap Disnaker, Aparat Keamaan, dan pemilik perusahaan sendiri. Masih acap kali terjadi, pengurus serikat buruh di PHK dan di mutasi dengan berbagai dalil. Oleh karena itu diminta agar Pemerintah menjamin kebebasan berserikat  bagi buruh dan menghentikan campur tangan lembaga diluar Triparti perburuhan dalam hubungan perburuhan, dan segera melaksanakan UU 21/2000 khususnya efektifitas pegawai pengawas Disnaker. Secara Khusus pegawai Negeri Sipil agar pemerintah dan DPR mengeluarkan UU sesuai dengan pasal 43 UU 21 tahun 2000.

7.         Resolusi tentang Perlindungan Buruh Kontrak dan sub Kontrak

Kondisi buruh kontrak sangat memperihatinkan seperti upahnya sangat rendah, tidak adanya jaminan kesehatan, tidak ada pension dan tidak ada ketenangan dlaam bekerja. Untuk itu perlu segera dibuat UU yang melarang Labour Supplier dan buruh kontrak terhadap pekerjaan yang permanen dan ada ketegasan mengenai pelaksanaan dan pengawasan terhadap Undang-undang yang berlaku dan segera dihapus Labour Supplier.

8.         Resolusi tentang Perlindungan Buruh Migran

Jumlah buruh migrant di Indonesia semakin banyak. Bertambahnya buruh migrant secara otomatis bertambah juga devisa Negara. Akan tetapi perlindungan yang diberikan pemerintah kepada buruh migran sangat minim. Sementara permasalahan yang mereka alami sangat kompeks, seperti pemerkosaan, Penganiayaan, jam kerja panjang dan terisolir. Melihat persoalan diatas, mendesak kepada pemerintah untuk segera membuat UU perlindungan buruh migrant dan dibuat perjanjian bilateral dengan Negara penerima TKI.

9.            Resolusi tentang Perjanjian Kerja Laut (PKL)

Mendesak pemerintah agar perjanjian kerja laut ( PKL ) disahkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi bukan disahkan oleh Pegawai Post Syah Bandar dengan alas an setiap kasus yang terjadi terhadap pelanggaran PKL Pegawai Post Syah Bandar tidak mempunyai kewenagan untuk memutuskan perselisihan tersebut melainkan harus diproses melalui suku Dinas Tenaga KErja dan Transmigrasi.

10.     Resolusi tentang Perdagangan Perempuan dan Bayi

Perdagangan bayi merusak moral serta martabat bangsa. Untuk itu diusulkan kepada pemerintah membongkar jaringan atau sindikat perdagangan bayi, perempuan dan anak serta membawa pelaku kejahatan kepengadilan.

 

 

Resolusi Intern

 1.         Resolusi tentang Rangkap Jabatan SBSI di Partai Politik

    1.  DPP harian dan korwil tidak boleh rangkap jabatan di eksekutif partai politik.
    2. Ketua dan sekretaris DPC SBSI dan PK SBSI tidak boleh rangkap jabatan di eksekutif partai politik.
    3. Setiap orang yang menduduki jabatan di pemerintah harus mundur dari SBSI. Kedudukan fungsionaris yang masuk dalam majelis pertimbangan baik di pusat, daerah dan cabang tidak termasuk perangkat jabatan.

2.         Resolusi tentang Struktur Kepengurusan, Delegasi dan Pengambil Keputusan 30% harus perempuan

Selama ini posisi perempuan hanya sebagai pelengkap demokrasi dalam setiap pengambil keputusan, baik intern maupun ekstern organisasi. Demi terciptanya demokratisasi yang berkeadilan, direkomendasi agar delegasi, peserta pendidikan dan struktur kepengurusan dari tingkat pusat sampai daerah di upayakan perempuan 30%.

3.         Resolusi tentang Pembekuan DPC

Bagi DPC yang selam 1 tahun berturut-turut sejak tahun 2000 tidak aktif mengirimkan laporan kegiatan bulanan dan iuran keanggotaan ke DPP SBSI, dinyatakan dibekukan ( daftar terlampir ). Proses pembekuan, DPC unitaris dilakukan oleh DPP Sektor. Bagi cabang sektor dilakukan oleh DPP Sektor dibawah pengawasan DPP Sektor.

 

 

Tri Dharma Serikat Buruh Sejahtera Indonesia

 

  1. KAMI PARA BURUH INDONESIA BERTEKAD, MENJUNJUNG TINGGI PANCASILA, DAN UUD 1945, DALAM SETIAP SIKAP DAN TINDAKAN KAMI.

 

  1. KAMI PARA BURUH INDONESIA BERTEKAD, MEMPERJUANGKAN KEMAKMURAN PARA BURUH INDONESIA, YANG BERLANDASKAN ATAS KEADILAN, SERTA HARKAT DAN MARTABAT KAMI, SEBAGAI INSAN PANCASILA.

 

  1. KAMI PARA BURUH INDONESIA BERTEKAD, MEMBANGUN BANGSA DAN BEKERJA KERAS, DILANDASI DENGAN TANGGUNG JAWAB KAMI, SEBAGAI WARGA-NEGARA INDONESIA.

PERSONALIA DPP SBSI

 

MPO (Majelis Pertimbangan Organisasi) :  Siswahyu Kurniawan

DPP (Dewan  Pengurus Pusat)

Ketua Umum                                                     : Dr. Muchtar Pakpahan, SH., MA

Sekretaris Jenderal                                         : Raswan Suryana

Ketua konsolidasi I                                          : Hotmaraja Nainggolan, SH

Ketua konsolidasi II                                         : Ir. Moh. Hasan Basori

Bendahara                                                          : Yuliana Putri Pawe, SH., MH

Departemen – departemen :

  1. LBH                                                                                : Sabinus Moa, SH
  2. Pendidikan/Pelatihan                            : James Simanjuntak, SH
  3. Hubungan Internasional                       : Mansyur Al Farizi
  4. Hubungan Masyarakat                          : En Jacob Ereste
  5. Tripartit                                                        : Manahara Sitinjak, SH
  6. Usaha Kesejahteraan                             : Drs. Sadjati Aribowo
  7. Kampanye Pemerintahan Bersih       : Bambang Smit
  8. Pembinaan Buruh Muda                       : Amdi Naja Fraga
  9. Kajian dan Data Base                              : Dr. Rumainar, SH., MH
  10. Kesejahteraan Gender                          : Woro Endah Nursani

 

Sektor – Sektor

  1. 1.       Sektor Buruh Industri  (F BI-SBSI)

 

Ketua Umum                     : Raswan Suryana

Sekretaris Jenderal         : Venje Parera

Wakil Ketua I                     : Danis, SH

Wakil Ketua II                    : Mahmud Chadi

Wakil Ketua III                   : Timbul Simanungkalit

Wakil Ketua IV                   : Suherman, MSC

Wakil Ketua V                    : Johanna Fenty

Ketua Program                  : Iwan Gunawan

Bendahara                          : Sri Ningtun

 

  1. 2.       Sektor Transportasi, Nelayan & Pariwisata (F TNP-SBSI)

 

Ketua Umum                     : Budiyono, SH

Sekretaris Jenderal         : Rustamadji

Wakil Ketua I                      : Paulus Sanjaya Samosir, SH

Wakil ketua  II                    : Bambang Smit

Ketua Program                  : Bernard Hasiolan Marpaung

Bendahara                          : Desy Diawati, SE

 

  1. 3.       Sektor Pertanian, Perkayuan & Konstruksi  (F PPK-SBSI)

 

Ketua Umum                     : Ir. Darmawan Simanjuntak, MRE

Sekretaris Jenderal         : Agus Supriyadi, SH

Wakil Ketua I                      : Agus Satria, S. Sos

Wakil Ketua II                    : Mansyur Al Farizi

Wakil Ketua III                   : Lenny Nurlena Samosir

Wakil ketua IV                   : Jasmin SIbarani

Ketua Program                  : Ricky Siahaan, SH

Bendahara                          : Woro Endah Nursani

 

 

  1. 4.       Sektor Bank, Keuangan & Niaga (F BKN-SBSI)

Ketua Umum                     : Drs. H. Ahmad Gufron

Sekretaris Jenderal         : Gusmawati Azwar, SH

Wakil Ketua I                      : Hotmaraja Nainggolan, SH

Wakil Ketua II                    : Yuliana Putri Pawe, SH., MH

Ketua Program                  : Sadjati Aribowo

Bendahara                          : Manahara Sitinjak, SH

 

  1. 5.       Sektor Pendidikan dan Pegawai Negeri (F PPN-SBSI)

 

Ketua Umum                     : Dr. Muchtar Pakpahan, SH., MA

Sekretaris Jenderal         : M. Perkasa Alam, SH., MH

Wakil Ketua I                      : Dr. Rumainur, SH

Wakil Ketua II                    : James Simanjuntak, SH

Ketua Program                  : Drs. Vuko Redward Bakara, SU

Bendahara                          : Ngasmini, S.pd

 

  1. 6.       Sektor Media Informatika  & Grafika (F MIG SBSI)

 

Ketua Umum                     : Ir. Moh. Hasan Basori

Sekretaris Jenderal         : En Jacob Ereste

Wakil Sekretaris                : Andri

Wakil Ketua  I                     : Siswahyu Kuniawan

Wakil Ketua II                    : Sabinus Moa, SH

Ketua Bidang Program   : Baskoro

Bendahara                        : Gangsar Widodo, SH

 

 

PENDIDIKAN & PELATIHAN SBSI

 I.       PENGANTAR

Serikat Buruh kuat adalah syarat mensejahterakan buruh, sekaligus wujud dari strong civil society ( masyarakat sipil yang kuat). Dalam rangka membangun serikat buruh kuat, pendidikan dan pelatihan adalah sesuatu keharusan yang dilakukan secara berjenjang. Ada lima jenjang pendidikan/pelatihan keorganisasian, Basic Training (Batra) bagi anggota, Bargaining Training Course (BTC) bagi Pengurus Komisariat, Leadership Training Course (LTC) bagi Dewan pengurus Cabang dan Training for Trainers (TFT)  dan Training for Organizers (TFO) bagi Korwil dan DPP.

Di buku ini yang dimuat adalah kurikulum Batra, BTC dan LTC yang menjadi acuan penyelenggaraan di wilayah, supaya semua pihak dapat dengan serta merta mengetahui dan menyelenggerakannya di bawah bimbingan kepengurusan di atasnya.

II.       BATRA 

Setiap anggota baru wajib mengikuti Batra dasar, agar mereka mengetahui dan menyadari hak dan kewajibannya sebagai anggota dan sebagai warganegara Indonesia. Sesudah menjadi anggota, wajib diadakan Batra tahunan, agar anggota mengetahui perjalanan organisasi serta mengevaluasi apakah ada manfaatnya menjadi anggota SBSI. Kemudian yang terpenting melalui Batra tahunan, dibangun solidaritas dan kebersamaan. Batra tahunan ini sebaiknya dilakukan bersamaan dengan  suatu acara rekreasi atau ada acara hiburan/entertainment. Batra dasar dan Batra tahunan dilaksanakan oleh PK didampingi DPC.

 

II. a. BATRA DASAR

  1. Pengenalan SBSI (sekitar 90 menit) yang berisikan: a. dasar dan  tujuan SBSI b. Sejarah perjuangan SBSI c. pengenalan struktur dan pengurus (PK, DPC, Korwil, DPP Sektor dan DPP SBSI). d. Secara singkat Serikat buruh internasional dan ILO.
  2. Manfaat menjadi anggota SBSI (sekitar 90 menit) yang berisikan : a. Masalah-masalah yang dihadapi buruh dan pemecahannya b. hak-hak anggota dan kewajiban anggota c. Hal hal advokasi yang dilakukan organisasi di tingkat PK, DPC, Korwil dan DPP.
  3. Dasar-dasar perjuangan buruh/hukum perburuhan (sekitar 90 menit) yang berisikan : a. UU no 21/2000 yang menjamin kebebasan berserikat b. UU no 13/2003 yang menguraikan hak-hak buruh c. UU 2/2004 yang menjelaskan penyelesaian perselisihan hubungan industrial dan peranan SBSI d. SJSN dan BPJS yang member jaminan kesehatan seumur hidup dan jaminan pension setelah pension maksimum umur 60 tahun. Mewujudkan dua jaminan sosial ini adalah yang paling penting bagi kehidupan setiap buruh.

II.b.  BATRA TAHUNAN

  1. Diskusi tentang kepengurusan SBSI (sekitar 90 menit) yang berisikan: a. mendiskusikan efektivitas kepengurusan SBSI dalam mencapai cita-cita perjuangan. B. Mendiskusikan kelemahan atau kekurangan dan kekuatan kepengurusan SBSI. C. saran-saran pada hubungan bipartite di perusahaan.
  2. Diskusi tentang Hasil perjuangan SBSI  (sekitar 90 menit) yang berisikan: a. Manfaat kehadiran SBSI di perusahaan dan di masyarakat. b. Memperkuat semangat solidaritas di kalangan anggota. C. Poin-poin yang perlu diperjuangan satu tahun ke depan.
    1. Diskusi tentang politik perburuhan (sekitar 90 menit) yang berisikan: a. issu perburuhan yang sedang menghangat dan apa sikap SBSI b. Pendapat anggota terhadap keadaan perburuhan masa kini c. Relevansi berlakunya semua undang-undang atau peraturan yang berkaitan dengan perburuhan.

 

III.   BTC (Bargaining Training Course)

BTC adalah sebuah pelatihan yang bertujuan  memampukan PK melakukan perundingan dengan pengusaha atau manajemen dalam rangka membela kepentingan anggota dan merundingkan PKB (Perjanjian Kerja Bersama). BTC sebaiknya dilakukan setiaptahun dengan menghadirkan seluruh PK atau sebagian-sebagian kalau jumlahnya besar. Seluruh personalia PK sebaiknya menjalani BTC, dengan demikian memahami tugas PK. BTC diselenggarakan oleh DPC didampingi atau dihadiri oleh Korwil. Sumber dana dari : a. anggota, b. sumbangan pengusaha  c. pemerintah kota/kabupaten n d. penyumbang lainnya yang tidak mengikat.

III.a. BTC

Pertama sebaiknya diselenggarakan selama dua hari efektif dengan materi seperti berikut.

  1. Penyelenggaraan tugas dan fungsi SBSI (sekitar 90 menit) yang berisikan:
  2. Sesuai AD/ART
  3. Sesuai UU no 21 tahun 2000
  4. UU No 13 tahun 2003
  5. UU no 2 tahun 2004
  6. SJSN dan BPJS
  7. Data/daftar keanggotaan dalam sebuah buku
  8. Administrasi keuangan dan data iuran anggota

 

  1. Makna dan arti PKB bagi buruh (sekitar 90 menit ) berisikan:
  2. Pengenalan arti dan makna PKB
  3. Peranan sebuah PKB sebagai fundasi perjuangan serikat buruh (SBSI)
  4. Kekuatan hukum daya mengikat PKB bagi pihak-pihak

 

  1. Materi dan substansi PKB (sekitar 90 menit) yang berisikan:
  2. Materi PKB menurut UU
  3. Materi PKB menurut kebutuhan dan kepentingan sektoral diperusahaan
  4. Tatacara pembuatan PKB beserta isinya

Latihan pembuatan PKB (sekitar 90 menit).

Penyiapan draf PKB yang mau dimajukan.

 

  1. Methode, tatacara dan teknik-teknik berunding ( sekitar 90 menit) yang berisikan:
  2. Membuat daftar hal-hal prinsip yang tidak boleh dinego dan yang boleh dinegosiasikan.
  3. Membuat pembagian tugas beserta uraian tugas: 1. Sekretaris/notulensi yang memegang dokumen2 2. Juru runding/juru bicara 3. Juru lobby.

Latihan berunding dengan membuat satu perundingan semu dengan membuat percontohan.

Latihan berunding dengan mengkonkritkan langkah-langkah berikutnya.

 

  1. Strategi pendukung perundingan PKB:
  2. Mengetahui profile perusahaan: pemilik saham, pembukuan, mitra bisnis di dalam dan diluar negeri.
  3. Membangun hubungan dengan pihak luar perusahaan yang dianggap dapat membantu perjuangan/perundingan, misalnya media, pejabat, DPRD atau DPR dll.
  4. Mencari alternative berikut bila perundingan PKB gagal misalnya  berdelegasi ke pejabat, menghubungi mitra, mogok, atau demokstrasi dll.

Menyiapkan langkah alternative dari pilihan no 9 serta meminimalisir korban di pihak SBSI. Sesudah matang baru lakukan langkah alternative.

III.b.  BTC TAHUNAN

  1. Mendiskusikan politik perburuhan kontemporer (sekitar 90 menit) yang berisikan:
  2. Issu popular tentang perburuhan secara nasional maupun daerah.
  3. Issu lain atau kebijakan nasional maupun daerah yang berhubungan dengan nasib buruh, seperti korupsi, RUU baru/ranperda, penegakan hukum dll.

 

  1. Mengevaluasi  PKB yang sudah dibuat (sekitar 90 menit) yang berisikan:
  2. Kelemahan/kekurangan PKB yang sudah dibuat.
  3. Bukan kelemahan PKB tetapi hal-hal yang layak diperjuangkan seperti bonus, transparansi pembukuan dll.

Mendiskusi dua hal di atas butir 1 dan butir 2, yang diuji dari visi dan missi perjuangan SBSI sesuai AD/ART (sekitar 90 menit).

Membuat daftar yang perlu dibica. rakan dengan pihak pengusaha atau manjemen.

Lanjutan dari no 4, dibuat dalam adendum yang konkrit.

Methode, tata cara dan teknik memperjuangkan daftar 4 dan 5.

Lanjutan dari no 6 dengan langkah-langkah yang konkrit.

Mencari langkah alternative bila perundingan tidak berhasil.

Menyiapkan langkah-langkah alternative seperti BTC awal.

Mendalami gerakan buruh SBSI dan menananmkan solidaritas dalm bentuk program-program atau kegiatan organisasi.

IV.a.  LTC ( Leadership Training Course)

LTC adalah sebuah pendidikan/pelatihan yang dialami oleh seluruh pengurus DPC dan kalau mungkin sampai PK. Melalui LTC diharapkan semua personalia DPC mampu memimpin SBSI dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Penyelenggara LTC adalah Korwil yang dihadiri/didampingi DPP SBSI. Sumber keuangan berasal dari : a. peserta,  b. pengusaha, c. penyumbang, dan d. pemerintah provinsi.  Materi-materi yang disampaikan pada LTC (dasar) adalah:

  1. Sejarah perjuangan SBSI (sekitar 90 menit) berisikan:
  2. Sejarah berdirinya SBSI.
  3. Sejarah berdirinya gerakan buruh dan peran gerakan buruh di dunia.
  4. Peran sejarah SBSI.

 

  1. Visi dan misi perjuangan buruh (sekitar 90 menit) berisikan:
  2. Tujuan perjuangan SBSI,  mensejahterakan buruh dalam Negara welfarestate.
  3. Idiologi solidaritas.
  4. Prinsip-prinsip perjuangan SBSI.

 

  1. Memahami politik perburuhan menurut UUD 1945 (sekitar 90 menit) berisikan:
  2. Memahami hukum, fungsi hukum, pembuatan hukum.
  3. Proses pembuatan hukum, Undang-undang, Peraturan pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Perda Provinsi dan Perda Kota/Kabupaten yang berhubungan dengan politik.
  4. Politik dan buruh.

4.  Strategi memperjuangkan kesejahteraan/kepentingan anggota (sekitar 90 menit) berisikan:

  1. Derajat kesejahteraan yang diperjuangkan SBSI.
  2. Prinsip-prinsip perjuangan SBSI.
  3. Sarana , alat-alat dan tahapan perjuangan SBSI: konsep, lobby, diskusi, dialog sosial, mogok dan demostrasi.

5.   Memasuki sessi diskusi tentang visi, missi dan perjuangan SBSI.

6.   Model model kepemimpinan (sekitar 90 menit) yang diberikan dosen manajemen berisikan

  1. Teori-teori kepemimpinan.
  2. Mengenal kepemimpinan Negara, politik, agama dan serikat buruh.

7.   Kepemimpinan di SBSI ( sekitar 90 menit) berisikan:

  1. Prinsip-prinsip kepemimpinan di SBSI.
  2. Cara pengambilan keputusan.
  3. Pengawasan dan pemberian sanksi.
  4. Cara-cara pengisian personalia kepengurusan di SBSI.

8.   Membangun SBSI yang kuat sebagai syarat mensejahterakan rakyat (sekitar 90 menit) berisikan:

  1. Tugas-tugas DPC dan cara melaksanakannya.
  2. Tiga tugas penting : advokasi, konsolidasi (rekruitmen) dan pendidikan/pelatihan.
  3. Membina hubungan baik dengan ormas-ormas: keagamaan, kemahasiswaan, kepemudaan dan LSM.
  4. Membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan partai-partai politik.
  5. Mambangun hubungan baik dengan mitra: Bupati/walikota/dinas tenaga kerja dan assosiasi pengusaha.

Mendiskusikan kepemimpinan dan pengorganisasian SBSI menuju serikat buruh kuat.( sekitar 90 menit).

 

  1. Menata administrasi organisasi ( sekitar 90 menit) yang berisikan :
  2. Tatacara membuat surat menyurat, penomoran, pembuatan hal, isi dan penandatanganan.
  3. Membuat arsip surat masuk dan surat keluar.
  4. Perlengkapan kantor  atau secretariat yang minimal.

11. Membangun kehumasan yang handal ( sekitar 90 menit) berisikan:

  1. Membangun hubungan baik dengan mass-media.
  2. Membuat bahan perskonperensi.
  3. Membuat pers release.
  4. Memanfaatkan media internet atau ruang maya dengan membangun website, email dan facebook.

12. Latihan Menata administrasi keanggotaan (sekitar 90 menit) berisikan:

  1. Ada buku keanggotaan yang berisi : nomor keanggotaan, nama, tempat tanggal lahir, alamat, tempat kerja dan tanggal mulai anggota, dan ada kolom keterangan yang bila ada berhenti atau pindah.
  2. Tata cara mengeluarkan KTA.

13.  Menata Keuangan organisasi DPC (sekitar 90 menit) berisikan:

  1. Membuka rekening atras nama DPC, penandatangan Ketua dan Bendahara.
  2. Pemasukan keuangan dan pengeluaran dengan mempergunakan rekening yang dilengkapi bukti-bukti.
  3. Perencana dan pengguna keuangan adalah sekretaris sebagai kordinator program.
  4. Membuat data daftar anggota pembayar iyuran setiap bulannya.

Diskusi tentang membanghun administrasi oragnisasi yang sehat, transparan dan akurat (sekitar 90 menit).

Diskusi tentang Bagaimana membangun SBSI yang kuat di tingkat DPC.

IV.b. LTC Tahunan

LTC tahunan difokuskan pada penguatan kepemimpinan organisasi, membangun soliditas dengan solidaritas yang kuat, dengan membahas issu politik perburuhan kontemporer  internasional, nasional dan lokal,dengan membuat LTC di atas menjadi patokan. Peserta tahunan adalah DPC yang sudah pernah LTC sehingga lebih banyak pada evaluasi dan diskusi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FORMULIR ANGGOTA SBSI

 

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama                                       :

Tempat Tanggal Lahir             :

Alamat                                                :

Pekerjaan                                 :

Alamat Pekerjaan                    :

 

Dengan ini memohon kepada DPP SBSI untuk dapat diterima menjadi anggota SBSI ( Serikat Buruh Sejahtera Indonesia ) dan saya menyatakan bersedia menjalankan hak dan kewajiban anggota sesuai AD/ART SBSI.

 

Kota, tgl, bulan, tahun

 

 

Nama Jelas

Terlampir FC, KTP & 3 lembar pas photo 2×3.

 

 

CONTOH KARTU TANDA ANGGOTA ( KTA )

( Ukuran KTP )

Kartu Tanda Anggota

Serikat Buruh Sejahtera Indonesia

( SBSI )

KTA

Nama         :

Pas

Photo 2×3

TTL             :

Alamat       :

Pekerjaan  :

Berlaku 4 tahun, dari … s/d …

DPC SBSI – Kabupaten/Kota

 

 

Nama             Stempel          Nama

Ketua                                      Sekretaris

Bagian Belakang                                                                  Bagian Depan

 

 

LAGU – LAGU PERJUANGAN BURUH

1. UNTUKMU BURUH

Cipt. Muchtar Pakpahan,  September 1994 di LP Tanjung Gusta

Untuk hidupmu buruh penjarakan ku tempuh

Asal kita bersatu berjuang bersama

Itulah sikap kami pemimpin SBSI

Kesehjahteraan buruh itu cita-cita

 

Sejahteralah bersama, tumpuan perjuangan

Upah hidup yang layak, di dalam PKB

Hentikan penghisapan, atas tenaga buruh

Berikanlah hak buruh, beri kepastian

 

Ref: Hidupmu yang prihatin kekurangan segalanya

Rendah upah serta rendah gizimu

Martabatmu pun rendah di kalangan lingkunganmu

kau dipandang rendah dan dilecehkan

……………………….musik………………………

 

Ref: Hidupmu yang prihatin kekurangan segalanya

Rendah upah serta rendah gizimu

Martabatmu pun rendah

Dikalangan lingkunganmu

Kau dipandang rendah dan dilecehkan

 

 

2. BERSATU (berantas korupsi)

Cipt.Aris Merdeka & Muchtar Pakpahan, 1988

 

Aku sudah tak tahan, selalu menderita

Di negeri yang kaya raya merdeka

Aku sudah tak tahan, selalu menderita

Di negeri yang kaya raya merdeka

 

Mari kita berjuang mari kita bersatu

Merebut hak kita dengan bersama-sama

Mari kita berjuang mari kita bersatu

Kita pasti, pasti kita menang

Kita pasti, pasti kita menang

 

Korupsi merajalela, hasilkan bencana alam,

Kebodohan, kemiskinan, pengangguran

Korupsi merajalela, hasilkan bencana alam,

Kebodohan, kemiskinan, pengangguran

 

Mari kita bersatu membrantas korupsi

Bersama membangun Negara welfare state

Saatnya kejujuran yang memimpin bangsa ini

Mari bersatu brantas korupsi

Mari bersatu brantas korupsi

3. HIDUP SBSI

Ciptaan Muchtar Pakpahan Januari 1995

 

Hai kaum buruh di Indonesia, mari bersatu bersama kami

Kita berjuang bersamasama menuju hidup yang sejahtera

Janganlah mundur surut, janganlah surut Langkahkan kaki ayunkan tangan

Hidup sejahtera tujuan kita serta tegak hukum perburuhan

Ref: hidup SBSI hidup SBSI hadir untuk perjuangan

Hidup SBSI hidup SBSI mari melangkah ke depan

Kembali ke awal dinyanyikan hidup SBSI, hingga fet up

 

 

 

 

 

Permanent link to this article: http://sbsi.or.id/about-us/ad-art/

ChatClick here to chat!+